Home Drag Bike Dragbike IDC 4 Purbalingga – Persaingan Strategi Atasi Lintasan Licin

Dragbike IDC 4 Purbalingga – Persaingan Strategi Atasi Lintasan Licin

1133
0
SHARE

IDC (Indonesia Drag Championship) seri 4, khususnya kelas Bebek 130 4T TU berlangsung seru dan ketat. Karena, hampir semua tuner papan atas berikut joki andalan siap tarung. Lokasi lomba di Banjar Sari, Purbalingga, Jateng, Pekan ini (3/9). Total ada 17 kelas yang siap dilombakan esok terdiri dari kelas point, pemula, suporting dan lokal kares . Tim dan starter papan atas hadir di antara 500 starter yang ikut berlaga di ajang IDC (Indonesia Drag Championship) seri 4 garapan EROI (Erdeve Racing Organizer Indonesia) di sirkuit Sirkuit Sirkuit Banjaran Sari, Kembaran Kulon, Purbalingga, Jateng (3/9).

Dari total 500 lebih peserta, diantaranya 30% peserta lokal dan harus berhadapan memperebutkan point dari beberapa kelas. Perlombaan kali ini haya dijalankan satu jalur, penyebabnya sirkuit baru selesai dikerjakan dan aspal masih licin. Terutama jalur bagian kanan sangat licin. Aspalnya baru jadi masih licin, makanya kelas dengan perebutan point lebih ketat disepakati agar adil menggunakan satu jalur.

Lintasan B lebih licin dibanding lintasan A dikarenakan aspal aru dan tidak memiliki pori pori. Seluruh starter mengalami spin ban hingga jarak 50 meter dari garis start. Sedangkan Asep Robot dan Antonius Petrus selain mengeluhkan lintasan licin juga mendapati lintasan bumpy pada jarak 150 meter.

Serunya lagi, berbagai trik untuk menyeting mesin balap trek lurus ramai dilakukan oleh teknisi seluruh tim.Seperti Rahadian dari Madiun bawa riset baru berupa bandul produk Japan di balancing ulang dan dibor kasih timah. Trik itu untuk cari torsi bawah dan atas, dengan power meningkat signifikan. Sedangkan Mlethis asal MBKW2 Yogyakarta menyiapkan settingan rasio sesuaikan karakter rider agar lebih nyaman. Fokusnya pada perpindahan percepatan antar gear ideal membuat power lebih merata konsisten pada catatan waktu 7,9 detik.

Contohya seperti Jupie 130 TU racikan Rahadian dan dipacu Gerry ‘Percil’ Setiawan, pimpinan sementara klasemen IDC dengan 47 point. Gerry unggul 7 point sama Alvan Cebonk diposisi kedua membela tim SJP33 Modal memacu Jupiter hasil karya Haris Shakti Prabowo alias Mlethiz. Kemudian, Dicky GA dari tim V-Reinz Bali Queen yang ketiga dengan 38 point memacu Jupiter karya Ari Setyawan.

Di samping ketiga tuner diatas , masih ada Jupiter garapan Yusuf Nugroho (Ho2 Racing), M. Arif Sigit Wibowo alis Pele (Kawahara), Benny Sastro Atmojo (Samodro Pitik) dan AB. Bendol (ABRT). Peluang untuk meraih podium di seri 4 masih terbuka, Inilah yang membuat daya tarik kelas bebek 130 4T TU.

Dari sekian jumlah starter asal Jawa Tengah, Yogyakarta dan jawa Timur, salah satu yang diwaspadai starter asal Bandung Jawa Barat yaitu Asep Robot yang kosnsiten meraih time 7 detik dengan Ninja TU di kelas FFA (Free For All) di seri 3 IDC (Indonesia Drag Championship) di Sukoharjo, Jateng. Saat ini, Asep Robot memimpin di puncak teratas klasemen sementara dengan total 45 angka dan unggul 12 angka dari Hendra Kecil (Magelang) diperingkat kedua. Hasil itu raih dari podium kedua di seri 2 dan pertama di seri 3, Konsistensi Asep diperkuat dengan kosentrasi dan mental.

Lintasan licin dari aspal baru membuat pacuan dengan power besar akan mengalami sliding, ini menguntungkan motor dengan power lebih rendah. Contohnya seperti Eko Chodox Sulistyo yang berlaga dikelas bebek 4T 130 TU, gagal mempeoleh catatan waktu terbaiknya. Motor Jupiter 130 cc hasil racikan Mletiz MBKW2 terpeleset dan terekam kamera jumpstart. Berikutnya korban lintasan licin juga dialami oleh Bayu Ucil (Purwodadi, Dicky GA (Temanggung) yang ternganggu dan kurang maksimal meraih catatan waktu terbaik di kelas 6 kelas point. Bahkan menurut Hendra Kecil ( Magelang ) mengeluh aspal lintasan terkelupas ketika dirinya burn out hendak memanaskan ban.

Trik menjaga posisi untuk aman dari lintasan licin yaitu mengurangi tekanan angin pada ban depan belakang dibuat dengan ukuran yang sama. Seperti Rahardian tuner dari Gerry ‘Percil’ Setyawan menurangi tekanan angin dari kombinasi sebelumnya 16 – 17 psi dan menjadi yang tercepat. Seluruh peserta sulit memperoleh kecepatan meraih time 7.0 di lintasan Banjaran Sari, Kembaran Kulon, Purbalingga, Jateng.